SMP YPK Martin Luther Sentani, Sekolah Terbanyak Terima Siswa Orang Asli Papua

nicolas, 20 Jul 2019,
Share w.App T.Me

JAYAPURA - Sekolah Menengah Pertama (SMP) YPK Martin Luther Sentani merupakan salah satu sekolah di Kabupaten Jayapura paling banyak menerima siswa -siswi Asli Papua (OAP), terutama dari Pegunungan tengah.

Kepala Sekolah SMP YPK  Martin Luther Maikel Paul Walli mengatakan jumlah terbanyak orang Asli Papua yang mendaftarkan anaknya di SMP YPK Martin Luther Sentani terbanyak , yakni 94 siswa yang merupakan siswa lulusan SD dari Wamena Jayawijaya dan wilayah pesisir depapre serta pesisir danau sentani.

"Ada sekolah unggulan dan ada sekolah tidak masuk nominasi unggulan,tapi kabupaten Jayapura membagi sona di tahun ini, karena ada sekolah faforit akhirnya di berlakukan sona untuk mengarahkan siswa-siswi lulusan SD tertentu untuk melanjutkan sekolah ke tinggkat SMP yang sudah di tetapkan, tapi kami susah untuk pake sona sehingga kami terima saja siapa yang mau masuk di SMP ini,"Ungkap Maikel Paul Walli saat di temui Jurnalis IndonesiaSatu.co.id.

Lanjut Kepsek SMP YPK Martin Luther Sentani pembagian sona sekolah sebenarnya wajib untuk orang tua memasukan anaknya di sekolah YPK tetapi menurutnya itu tidak harus karena banyak orang tua di kabupaten Jayapura lebih memilih anaknya untuk di masukan ke sekolah-sekolah unggulan.

"Untuk biaya masuk gratis , tetapi saya rapat dengan orang tua siswa yang baru tentang anggaran sekolah, seperti kebutuhan  sekolah,sehingga kami gunakan istilah biaya diakonia (SPP) yang sudah di lakukan sejak dulu , biayanya bukan putusan sekolah tapi tawaran orang tua siswa perbulannya Rp.60 ribu, namun saat ini untuk kelas 9 Rp. 55 ribu per murid," ujarnya.

Maikel Paul Wali Juga menuturkan saat ini sekolah SMP YPK Martin Luther Sentani hanya memiliki 9 ruang belajar, penerimaan tahun ajaran 2019/2020 pihaknya mengusahakan menerima siswa untuk memenuhi target tiga ruang  kelas sehingga target tersebut pun terwujud dari total 94 siswa  di kelas 7 yang sudah di terima di bagi menjadi tiga kelas tadi.untuk kelas 8 dan 9 masing -masing mendapat tiga kelas sehingga totalnya menjadi tiga rombongan belajar (Rombel).

Untuk tenaga pengajar sendiri ada 7 guru PNS dan  6 orang guru honor sehingga total tenaga pengajar di SMP YPK Martin Luther Sentani 13  orang guru.

"Tahun lalu harus diwajibkan 5 hari kerja tetapi di sini belum bisa karena butuh proses yang panjang alasanya harus ada pendukung, guru saja masih terbatas, fasilitas belum mendukung, salah satunya kamar mandi,  pertimbangan itu kami tidak 5 hari kerja dan juga waktunya tidak sampe sore," tuturnya.

Kendala lain yakni kurangnya tenaga guru sehingga guru honor menjadi alternatif mengisi kebutuhan sekolah demi lancarnya proses belajar mengajar, meski dengan keterbatasan yang ada, Paul Walli menegaskan pihaknya sudah melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) selama tiga tahun sejak 2016 hingga 2019.

"Kami memiliki satu buah Lap komputer dan 30 unit komputer, dibantu orang tua murid 3 unit totalnya 33 unit saat ini" tutupnya. (nesta) 

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu